Selasa, 04 Maret 2008

Disadur Dari POS KUPANG

Regenerasi dalam Pilgub NTT

Oleh : Herman Musakabe
Gubernur NTT periode 1993 - 1998. Aktif menulis di sejumlah media massa. Selain menulis di media massa, juga menulis beberapa buku.

TIDAK terasa waktu terus bergulir, dan tahun 2008 ini rakyat NTT akan mengadakan perhelatan besar memilih pemimpinnya yang akan memimpin Propinsi Flobamora untuk lima tahun ke depan. Meminjam istilah Pendeta Dr. P Octavianus dalam bukunya : "Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah", dikatakan bahwa waktu Tuhan itu ada tiga macam, yaitu (1) waktu "kronos" (Yunani), waktu biasa yang dihitung menurut ukuran menit, jam, hari, bulan, tahun dst, (2) waktu "kairos", waktu sebagai peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh manusia, dan (3) waktu "aion" yaitu waktu abadi, bahwa sesudah kehidupan yang fana di dunia ini ada kehidupan abadi, di mana setiap manusia (termasuk para pemimpin) harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan semasa hidupnya (kronos dan kairos) kepada Tuhan. Setiap manusia akan mengalami ketiga waktu tersebut dalam kehidupannya.

Sebagai pemerhati, saya melihat bahwa proses pemilihan Gubernur NTT tahun 2008 ini merupakan suatu peluang yang baik untuk rakyat NTT memilih putera terbaiknya memimpin daerah ini lima tahun ke depan. Apalagi Pemilihan Gubernur NTT 2008 ini adalah pemilihan yang langsung oleh rakyat untuk pertama kalinya. Saya tertarik oleh tulisan senior saya Bapak Dokter Hendrik Fernandez (mantan Gubernur NTT) dalam buku "15 Tahun Pos Kupang" (2007) agar rakyat jangan salah pilih kalau ingin NTT maju. "Jika salah pilih pemimpin, ya nasib kita masih seperti ini terus. Kapan maju?" Tentu beliau punya alasan tersendiri mengatakan hal itu, dan kita sebaiknya memperhatikan kata-kata bijak orangtua agar kita tidak salah pilih karena menyangkut masa depan kita bersama.



Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini, yaitu : pentingnya soal regenerasi kepemimpinan di NTT, bagaimana memilih pemimpin yang punya hati nurani dan punya jejak rekam (track record) yang baik dan teruji, dan memilih pemimpin yang mampu mengatasi masalah utama di NTT yaitu mengatasi kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan rakyat.

Pentingnya regenerasi
Regenerasi adalah suatu keharusan dalam proses peralihan kepemimpinan apa pun dan di mana pun. Mengapa regenerasi itu demikian penting? Pertama, soal umur manusia yang terus bertambah, sementara kondisi fisik, pikiran dan kemampuan manusia yang semakin menurun. Kondisi seseorang pada 5 atau 10 lalu tentu berbeda dengan sekarang. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Memang tidak ada suatu aturan baku yang menentukan soal umur maksimal, tetapi sebaiknya Gubernur NTT mendatang berusia "kepala 4" (40-an tahun) atau "kepala 5". Kalau sudah "kepala 6" dianjurkan lebih baik beristirahat, membina keluarga atau menjadi pemimpin non formal di masyarakat. Sudah cukup bukti pemimpin yang memaksa diri pada usia di atas kepala 6 dan ternyata sering berakhir dengan anti klimaks karena menghadapi masalah kesehatan atau masalah hukum pada masa kepemimpinannya. Lord Acton mengingatkan : power tends to corrupt, absolutely power corrupts absolutely. Kekuasaan memang cenderung menggoda orang untuk menggenggamnya selama mungkin, dan berbagai "penyakit" kekuasaan itu akan datang seiring berjalannya waktu.

Kedua, ada sebuah asas kepemimpinan yaitu legawa yang berarti kerelaan untuk pada waktunya menyerahkan estafet kepemimpinan, dari yang tua kepada yang lebih muda. Tetapi ternyata asas ini paling sulit untuk dilaksanakan karena berbagai kepentingan sang pemimpin sehingga akhirnya tidak rela menyerahkan kepemimpinan kepada yang lebih muda.

Dalam Kitab Suci ada kisah bagaimana Raja Saul tidak legawa dan membenci Daud calon penggantinya, walaupun Daud dipilih Tuhan dan sudah diurapi nabi untuk menggantikannya. Saul menombak Daud yang sedang memainkan kecapi sebagai bentuk ke-tidaklegawaan-nya, tetapi Tuhan menyelamatkan Daud. Kisah ini sering berulang kembali masa kini, hanya versi dan bentuknya yang lain. Tombak Saul bisa berwujud SK pemberhentian, di-non job-kan, pensiun dipercepat, pembunuhan karakter, terutama ditujukan pada kader-kader muda potensial yang menyebabkan mereka kehilangan peluang untuk berkompetisi dengan sehat. Akhirnya sebagian terpaksa hengkang keluar NTT untuk bekerja di daerah lain atau menjadi frustasi. Terbukti orang-orang NTT di luar berkembang baik dalam pemerintahan, pendidikan dan swasta, walaupun di daerah sendiri tidak bisa berkembang.

Ketiga, akibat point dua di atas, maka regenerasi menjadi terhambat dan terjadi stagnasi dalam kepemimpinan. Ketika sang pemimpin sudah bertahan cukup lama sementara kader muda disingkirkan, maka pada saat suksesi kepemimpinan berikutnya, generasi yang "tua" dan "muda" sudah sama-sama tua dan memasuki usia pensiun. Akibatnya, terjadi kesenjangan dan kita mulai dari baru lagi dalam memilih pemimpin.

Pilih pemimpin dengan hati nurani
Bagaimana sebaiknya memilih pemimpin yang memiliki hati nurani? Pertama, pilihlah orang yang sudah kita kenal jejak rekamnya (track record), baik jejak rekam di pemerintahan, swasta, masyarakat maupun kehidupan keluarganya. Rumusannya sederhana, yaitu orang yang tidak terlibat "Tiga Ta" atau harta, tahta dan wanita. Sebaiknya kita memilih pemimpin yang tidak bermasalah dengan hartanya, tahta (kekuasaan) yang didapat dengan menghalalkan segala cara, dan tidak punya wanita selingkuhan atau WIL (wanita idaman lain) di luar pernikahan yang sah.




Kesalahan kita dalam memilih pemimpin adalah kita tetap memaksa pilih orang yang kita sudah tahu punya masalah dan kelemahan di atas. Maka jangan salahkan sang pemimpin kalau ia mengulangi lagi kesalahannya yang lalu dan rakyatlah yang menjadi korban selama 5 atau 10 tahun kepemimpinannya. Satu dua pengecualian tetap ada, tetapi persentasi pemimpin yang "sadar" tidak banyak.

Kedua, pilih orang yang punya hati nurani dan perhatikan rakyat kecil, bukan dengan kata-kata di bibir tetapi dengan perbuatan nyata. Kita bisa mengamati dalam kehidupannya sehari-hari, apakah ia peduli pada lingkungan sekitarnya, dalam pergaulan di masyarakat dan bagaimana kehidupan keluarganya. Bagaimana aktivitas beragamanya (dalam panitia keagamaan, kegiatan jemaat, dll), berorganisasi di masyarakat dan sebagainya.

Ketiga, talenta memimpin biasanya sudah terlihat sejak seseorang memimpin kelompok, organisasi (pemuda, olah raga, politik dsb) atau jabatan-jabatan sebelumnya. Kalau ia setia dalam perkara yang kecil, maka ia bisa diharapkan setia dalam tugas-tugas yang lebih besar. Sebaliknya kalau ia tidak setia dalam perkara-perkara kecil, maka sulit untuk mendapatkan kebaikan daripadanya dalam perkara-perkara lebih yang besar. Bahkan seringkali kelemahan-kelemahan sebelumnya akan muncul kembali sesudahnya, bila ia tidak mau introspeksi diri.

Masalah utama NTT
Masalah utama di NTT adalah kemiskinan, pengangguran, tingkat pendidikan yang pada umumnya rendah, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang perlu ditingkatkan. Kalau masalah utama itu dapat diatasi, atau dikurangi, maka kesejahteraan rakyat otomatis akan meningkat. Masalah ini terus bergulir dari satu gubernur ke gubernur lainnya, tetapi belum dapat teratasi dengan baik.



Berbagai usaha dan program-program kerja sudah dilakukan oleh semua gubernur dan para bupati/walikota tetapi angka kemiskinan masih tetap tinggi. Walaupun ada peningkatan pendapatan perkapita tetapi masih tetap lebih rendah dibandingkan propinsi-propinsi lainnya. Ini pekerjaan rumah (PR) besar bagi gubernur mendatang. Untuk itu pada calon gubernur/wakil gubernur perlu memiliki visi dan misi bagaimana mengatasi kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan rakyat agar SDM NTT bisa bersaing merebut lapangan kerja.

Salah satu contoh, Harian Kompas (5/2-08) memuat berita : "TKI Asal NTT Sumbang Rp 118,7 Miliar rupiah selama 2007 untuk pembangunan NTT." Bila para TKI tersebut dibekali dengan berbagai keterampilan yang diperlukan melalui pelatihan, maka mereka akan memberi kontribusi lebih besar dalam membangun NTT. Kalau para calon gubernur/wakil gubernur menyampaikan visi dan misinya kepada rakyat, maka rakyat bisa menagih visi dan misi tersebut kepada mereka setelah memenangkan pilkada nanti. Misalnya, bagaimana strategi para kandidat meningkatkan pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan rakyat agar tidak ada lagi kasus-kasus busung lapar. Bagaimana strategi mereka untuk mengurangi angka pengangguran yang terus bertambah, meningkatkan pendidikan dan keterampilan kerja, dan sebagainya. Singkatnya, mereka dituntut untuk bisa mengatasi masalah kemiskinan dan kualitas SDM di NTT.

Pilih yang terbaik
Agar tidak salah pilih pemimpin, maka pilihlah yang terbaik dari kandidat yang ada. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, jangan memilih berdasarkan kepentingan sempit, misalnya memilih hanya berdasarkan kesamaan agama atau daerah asal, tanpa melihat kualitas calon. Pasangan cagub dan cawagub biasanya terdiri dari gabungan Katolik-Protestan atau Protestan-Katolik berdasarkan mayoritas pemeluk agama di NTT. Posisi cawagub hampir setara dengan cagub, karena di era reformasi ini posisi wakil bukan lagi sebagai "ban serep" atau cadangan, tetapi sebagai mitra atau merupakan "dwitunggal" dengan gubernur dalam menentukan kebijakan publik.
Dalam memilih pasangan calon, rakyat pemilih harus melihat bobot keduanya karena mereka akan saling melengkapi dalam pelaksanaan tugas mendatang.
Kedua, pilihan sebaiknya menggambarkan kemauan kita untuk regenerasi (peremajaan) pemimpin di NTT. Kalau kita masih berkiblat pada yang tua-tua, lalu kapan orang-orang muda diberi kesempatan? Di Amerika Serikat, salah calon Presiden Partai Demokrat adalah Barrack Obama yang berusia sekitar 46 tahun. Ia berkulit hitam dan bersaing dengan Hillary Clinton, isteri mantan Presiden AS. Di Tangerang, Rano Karno berhasil jadi wakil bupati, dan salah satu Cawagub Jawa Barat adalah aktor Dede Jusuf. Kita harus bersikap legawa dengan memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk memimpin daerah ini.

Ketiga, karena yang kita pilih adalah manusia, tentu tidak ada yang sempurna. Kita memilih manusia, bukan malaikat. Para kandidat itu pasti memiliki kekurangan, "Cagub/Cawagub juga manusia". Sejauh kekurangan itu tidak menyangkut masalah prinsip moralitas yang berkaitan dengan "Tiga Ta", dan berkualitas maka mereka masih layak untuk dipilih. Selain itu kita berharap agar jangan ada saling fitnah, menjelek-jelekkan kandidat lain, atau kampanye hitam (black campaign) dalam proses Pilgub NTT.

Kita tidak berharap pilkada di NTT berakhir dengan kekacauan dan "perang saudara" seperti di Sulawesi Selatan atau Maluku Utara, karena yang menjadi korban adalah rakyat itu sendiri. Rakyat yang sudah miskin tambah miskin lagi karena urusan politik dalam memilih pemimpinnya. Akhirnya, kita mohon kepada Allah agar Roh Kudus membimbing rakyat NTT dengan memilih pemimpinnya yang terbaik, yaitu pemimpin yang takut akan Allah tetapi berani melawan kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan bagi kepentingan kesejahteraan rakyat serta kemajuan NTT.

Minggu, 02 Maret 2008

Comrad Adhitya

DEMOKRASI NTT
DITANGAN KAUM MUDA

Samuel Hungtington dalam bukunya Third Wave Of Democratization (1991), mencoba memetakan proses demokratisasi yang menerpa kawasan Eropa Timur. Dimulai dengan tumbangnya Rezim Fasis di Portugal pada 1974 dan mencapai puncaknya pada masa transisi demokrasi lewat proses perebutan politik besar-besaran di kawasan Eropa Timur di penghujung tahun 1989. Gelombang demokrasi ini tidak hanya terhenti di kawasan Eropa Timur yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin yang menjadi lambang pemisah Rezim Demokrasi Barat dan Rezim Sosialis Timur tetapi juga gelombang demokrasi ini melanda kawasan Asia, tidak terkecuali di Indonesia.
Perjalanan sejarah Indonesia dari Demokrasi Parlementer (1950-1959), Demokrasi Terpimpin oleh Soekarno (1959-1966) dan Demokrasi Pancasila yang dikontrol Soeharto (1967-1998) sampai memasuki Era Reformasi merupakan fakta perubahan demokrasi. Namun terdapat realitas ambigu bagi konteks demokrasi di Indonesia yang seolah kehilangan bentuk dan keblabasan. Berkembangnya sistem multi-partai yang ekstrim pasca Amandemen Undang-undang Dasar 1945 telah memicu kebebasan berbicara, berpolitik dan berorganisasi di seluruh penjuru Indonesia. Tetapi hal ini sangat disayangkan sebab tidak diiringi dengan pendidikan dan mekanisme demokrasi yang jelas, sehingga secara tidak langsung mengarahkan masyarakat pada “Perangkap Politik”.
Munculnya perangkap politik seperti politik uang (money politic), kampanye primordial dan janji palsu sang calon pemimpin, memberi pertanda akan lunturnya nilai-nilai luhur dalam berdemokrasi. Hal ini merupakan realita bahwa, reformasi berdemokrasi belum memiliki platform dan pijakan yang kokoh dalam menghadapi kultur transisi politik yang memperlemah kohesi sosial namun di lain pihak memperkuat sentiment primordial. Jika melirik konteks Nusa Tenggara Timur pada situasi politik dengan momentum Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung Juni 2008, maka bukan tidak mungkin masyarakat Nusa Tenggara Timur dapat terjebak dalam situasi politik etnis dengan sentiment primordial (S3;suku,saku,saya) yang dapat menyulut konflik komunal dan mencederai semangat demokrasi, sehingga harapan akan perubahan sosial menjadi sulit terwujud.
Perubahan sosial yang diharapkan oleh masyarakat, sudah seharusnya menjadi perhatian utama semua pihak khususnya para Aktor Demokrasi. Indonesia dengan sistem Demokrasi Procedural, dimana partai politik sebagai Aktor Demokrasi yang diharapkan dapat mendrive dan mengartikulasikan nilai-nilai luhur demokrasi di tengah masyarakat, justru terjebak dalam Sistem Pemasaran Politik (political marketing). System ini mengharuskan partai untuk lebih berpikir mengenai Pemasaran Organisasi (organization marketing), Pemasaran Pribadi (person marketing) dan Pemasaran Gagasan (idea marketing) yang berujung pada eksklusifisme politik, dibandingkan dengan perwujudan hak-hak dasar masyarakat luas sehingga tidaklah mengherankan jika gejala kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan pendidikan semakin menambah penderitaan masyarakat.

Sudah saatnya kaum muda!
Meneropong kiprah kaum muda masa kini khususnya di Nusa Tenggara Timur, sudah sepatutnya untuk digugat kembali. Positioning kaum muda seakan tengah berada pada persimpangan jalan yang tak menentu arahnya. Pembangunan demokrasi di Nusa Tenggara Timur berada pada titik kritis, dimana peran serta partisipasi kaum mudanya selalu dikesampingkan. Era transisi demokrasi pasca reformasi dewasa ini, memerlukan upaya strategis dalam mendorong terwujudnya kultur demokrasi yang sehat, guna menjamin hak-hak individu dan sosial kemasyarakatan. Hal ini dapat terwujud dengan adanya penyediaan ruang partisipasi aktif bagi masyarakat melalui kepeloporan kaum muda, yang nantinya akan membentuk emansipasi individu dan sosial kemasyarakatan baik di tingkat lokal maupun nasional melalui pemberdayaan serta pendidikan politik yang terarah. Dengan kata lain, kaum mudalah yang seharusnya diberi kepercayaan menjadi aktor demokrasi sebab jika menumpuhkan harapan pada partai politik sebagai aktornya, maka akan menimbulkan sikap pesimistis ditengah masyarakat. Mungkin pemikiran ini menjadi antitesa produktif bagi partai, untuk itu partai politik sudah seharusnya berbenah diri dan merevitalisasi peran politiknya dalam mewujudkan demokrasi yang kondusif ditengah masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat baik di tingkat lokal maupun nasional, terpola beberapa golongan pembentuknya yakni Golongan Elite (state), Menengah (middle class) dan Massa Rakyat (grass root). Golongan menengah dalam hal ini kaum muda, selalu ditempatkan oleh para pemikir demokrasi kontemporer sebagai golongan yang mempunyai peran vital dalam demokrasi politik. Hal ini dibuktikan juga melalui sejarah bangsa, dimana kaum mudalah yang selalu menjadi Pejuang Pelopor Demokrasi (Vanguard Fighter For Democracy) yang berbasiskan pada kepentingan massa rakyat. Tanpa lelah kaum muda menggulingkan Rezim Soeharto, merobohkan kediktatoran orde baru dan mengawal proses transisi demokrasi bahkan untuk Nusa Tenggara Timur, para pemikir demokrasi dan pejuang Hak Asasi Manusia selalu didominasi oleh kaum mudanya. Apakah hal ini bukan merupakan fakta? Untuk kesemuanya itu, sudah tiba saatnya masyarakat Nusa Tenggara Timur mulai memperhitungkan dan melirik para kaum muda.
Peran strategis kaum muda Nusa Tenggara Timur baik ditingkat pemerintahan maupun ditingkat masyarakat dalam mengimbangi dominasi elite, pengontrol kebijakan dan mediator antara massa rakyat dengan pengambil kebijakan harus dimulai sekarang melalui momentum Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung Juni 2008, demi melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat di masa mendatang. Meskipun masih banyak kendala yang harus dihadapi seperti pertama, masih kuatnya generasi-generasi “Kabur” yang mengklaim dirinya sebagai generasi reformis namun memiliki watak dan karakter politik orde baru serta kedua, lemahnya pendorong konsolidasi demokrasi dan keterbatasan ruang politik yang disediakan kepada kaum muda Nusa Tenggara Timur khususnya dalam mengimprovisasi sikap politik mereka, seharusnya menjadi alasan mutlak masyarakat Nusa Tenggara Timur agar memberikan ruang partisipasi aktif kaum mudanya untuk memasung dan mengeliminir kendala-kendala tersebut karena sesungguhnya kedaulatan ada ditangan masyarakat.
Pesta demokrasi di Nusa Tenggara Timur secara langsung Juni 2008 mendatang, tentu tak hanya bermakna pesta dan huru-hara calon kandidat serta tim suksesnya, yang hanya dimaknai sebagai ritual procedural berdemokrasi dan terkadang menciptakan perangkap politik bagi masyarakat akan tetapi, pesta demokrasi ini juga harus diterjemahkan secara substantive sebagai awal kebangkitan untuk Nusa Tenggara Timur yang harmonis, demokratis dan sejahtera. Kampanye Primordial, Politik Uang (money politic) dan Janji Palsu sang calon pemimpin terkadang menjadi fenomena aktual tiap pilkada, oleh sebab itu kaum muda yang masih eksis diharapkan dapat mengawal tiap agenda perubahan dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat. Dan sudah saatnya kaum muda sebagai pengawal demokrasi menjadi pemimpin demokrasi itu sendiri. Bangkitlah kaum muda!!!

Comrad Adhitya

Selamat Datang di PMKRI Cabang Maumere St.Thomas Morus!!!
Dari sinilah, para kader muda KATOLIK dibentuk...